Rabu, 04 Januari 2012

Sahabat Sejati dalam Pandangan Islam


Dari seorang teman....
           
  Sahabat Sejati dalam Pandangan Islam

for everyone Sahabat itu.. A friend in need a friend indeed, pepatah Inggris Duduak samo randah tagak samo tinggi, pepatah minang Mangan ora mangan sing penting ngumpul, pepatah jawa Orang yang akan ada saat kau membutuhkannya dan mengerti ketika kau butuh ruang untuk sendiri. Seseorang yang akan menguatkanmu ketika kau lemah, dan ketika kau menopangnya kau akan menjadi utuh. Bagian yang terpisah dari dirimu, sekaligus paling mengerti siapa dirimu yang sebenarnya. (Ariani dalam webblog-nya). Pegang pundakku jangan pernah lepaskan Bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar Pegang sayapku jangan pernah lepaskan Bila ku ingin terbang terbang meninggalkanmu (Sheila On 7, riff lagu Sahabat Sejati) Ingatkanku semua wahai sahabat Kita untuk selamanya kita percaya Kita tebarkan lara dan tak pernah lelah Ingatkanku semua wahai sahabat (Peterpan, riff lagu Sahabat) Perintah Allah swt. dan Rasulullah saw. dalam Bersahabat Allah telah memerintahkan kaum muslim untuk menjadikan nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh sebagai sahabat, hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (TQS. an Nisaa’ [4]: 69), dan juga orang-orang mukmin, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali-Imran [3]: 118) Allah telah melarang kaum muslim untuk mengambil orang kafir sebagai teman dekat sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah swt: “(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”(TQS. an-Nisaa’[4]: 139) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” (TQS. An-Nisaa’ [4]: 144) “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (TQS. Ali-Imran [3]: 28) Dan Allah swt telah menetapkan hukumnya kepada mereka yang telah menjadikan syaitan, orang-orang kafir, fasik dan zalim sebagai sahabatnya dengan meninggalkan Allah dan Rasulullah. “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (TQS. al-Furqan [25]:27-29) Dan mereka yang berteman itu saling menyalahkan kecuali persahabatan orang-orang yang bertaqwa. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (TQS. az-Zukhruf [43]: 67). Rasulullah memberikan perumpamaan tentang persahabatan sebagai berikut: dari Abu Musa al Asy’ari ra ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang yang shalih dan orang yang bergaul dengan orang jahat, seperti pergaulan dengan penjual misik (minyak kasturi) dan tukang peniup api. Adapun dengan penjual minyak kasturi, mungkin saja dia akan memberi minyak kepadamu, atau kamu membeli minyak kepadanya. Atau paling tidak kamu akan mendapatkan harumnya. Sedangkan orang yang meniup api, boleh jadi ia akan membakar pakaianmu, atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau yang tidak enak darinya.” (HR. Bukhari Muslim) Bersahabat dengan Lawan Jenis Secara umum, kehidupan laki-laki dan wanita adalah terpisah (infishal), artinya kehidupan sosial mereka sebagian besar dihabiskan bersama keluarganya dan sesama mereka (laki-laki dengan laki-laki dan wanita dengan wanita). Dalilnya adalah ketika beberapa wanita bertanya kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah, kami tidak mendapat peluang untuk belajar di majelismu yang dipenuhi kaum laki-laki, maka berilah kami kesempatan agar kami dapat belajar darimu pada kesempatan itu.” Kemudian Rasulullah menjawab: “Bagianmu adalah di rumah si fulanah.” Maka beliau datang kepada mereka (kaum wanita) pada hari dan tempat yang telah dijanjikan dan beliau mengajar mereka. (Lihat Fathul Barri, jilid I). Sehingga interaksi yang terjadi antara keduanya sangat kecil dan hanya terjadi dalam hal-hal tertentu saja. Tidak bisa dinafikan bahwa laki-laki dan wanita pasti akan berinteraksi satu dengan yang lain, sehingga perlu pengaturan tehadap interaksi tersebut. Menjadikan lawan jenis sebagai teman bisa saja dilakukan asal sesuai dengan syariat Islam. Sesuai dengan syariat Islam maksudnya adalah dalam bergaul selalu mengikuti kaidah hukum syara’ (Islam). Beberapa hal yang harus diperhatikan agar persahabatan sesuai dengan syara’ adalah: 1. Menundukkan pandangan. Maksudnya adalah memandang kepada yang bukan aurat dari lawan jenis dan memandang selain aurat tidak dengan syahwat. Dalilnya adalah al-Qur’an surat an-Nuur [24]: 30-31. 2. Tidak berkhalwat (menyepi, berdua-duaan dengan lawan jenis). Hal ini berlandaskan pada sabda Rasulullah saw. yang berbunyi: “Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian bersunyi-sunyi dengan perempuan lain, kecuali disertai dengan muhrimnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Tidak masuk ke tempat tinggal wanita. Dalilnya adalah sabda Rasulullah, dari Uqbah bin Amir ra., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kalian untuk bertamu kepada wanita!” seorang laki-laki Anshar bertanya: “bagaimana kalau saudara ipar (besan)?” Rasulullah bersabda: “Ipar sama dengan kematian.” (Mutafaq alaih). 4. Berinteraksi hanya pada keadaan yang dibenarkan oleh syara’, misalnya dalam hal pendidikan, jual beli, dan pengobatan (dalam beberapa kasus). 5. Berteman karena Allah swt semata. Rasulullah memerintahkan hal ini dengan jelas. Berdasarkan hadist dari Abdullah bin Mas’ud riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak. Rasullulah bersabda: “Wahai Abdullah bin Mas’ud! Ibnu Mas’ud berkata: “Ada apa ya Rasulullah? (Ia mengatakannya tiga kali)” Rasulullah bertanya: “Maukah Engkau tahu, tali keimanan manakah yang paling kuat?” Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah bersabda: “Tali keimanan yang paling kuat adalah loyalitas kepada Allah, dengan mencintai dan membenci (segala sesuatu) hanya karena-Nya.”. Lebih dari itu, tidak menjadikan mereka yang berbeda agama sebagai bithōnah (teman kepercayaan) dan walĂ® (teman yang dekat atau pelindung dan penolong). Selain itu perlu diperhatikan pula, agar teman tetap menjadi teman, yaitu dengan cara: a. Kurangi frekwensi pertemuan yang tidak perlu. b. Jangan berbicara dan berpenampilan yang menimbulkan daya tarik bagi lawan jenis. c. Menutup aurat dan memakai jilbab bagi wanita. d. Kurangi berhubungan. (maksudnya seperti, sms, nelpon, e-mail dan chatting) e. Menjaga hati. Hal ini berlaku juga kepada aktivis pengajian, karena dewa cupid merentangkan busurnya tidak laporan dulu lho! Dekatkan diri kepada Allah swt dengan banyak mengingatnya dan mengingat dosa-dosa kita yang telah lalu dalam sholat kita bisa jadi solusi mujarab. Menjadikan lawan jenis sebagai teman, dilakukan sebatas apa yang telah dijelaskan diatas, dan tak lebih dari itu. Hukum syara’ yang lain akan berlaku jika kita menginginkan yang lebih dari yang telah disampaikan di atas. Aktifitas seperti curhat masalah pelajaran, teman, keluarga, classified ploblem, minta usulan sambil makan berdua, nemenin beli kado atau hadiah, nganterin pulang ketika kegiatan berakhir terlalu malam, jalan bareng ke mall atau plaza, bikin PR, tugas dan laporan berdua, semua hal tersebut bisa dilakukan jika dan hanya jika keduanya telah diikat dengan simpul agung pernikahan. Artinya, aktifitas persahabatan yang sejati hanya bisa berlaku kepada Istri suami, dan teman yang sejenis (laki-laki dengan laki-laki atau wanita dengan wanita, gitchu loh...) dan mukmin sebagaimana penjelasan di al-Qur’an sebelumnya. Menjadi Sahabat Sejati Syaikh al-Ghazali menjelaskan lima hal yang harus dilakukan untuk mengikat persaudaraan, lima hal itu adalah: 1. Dalam hal harta, hendaklah, setidaknya, adalah seperti budakmu, maka urusannya menjadi bagian dari kepentinganmu. Pertengahannya adalah menjadikannya setingkat denganmu, karena, persaudaraan memunculkan persekutuan dan kesamaan. Yang paling tinggi adalah memuliakannya diatas dirimu. Maka engkau meninggalkan urusan dirimu untuk mengurus kepentingannya. Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. 2. Membantu memenuhi kebutuhannya sebelum diminta. 3. Tidak mendatangkan sesuatu yang tidak disukainya. 4. Berbicara dengan sesuatu yang disukainya berupa pujian tanpa keluar dari kebenaran. 5. Memenuhi janji dan keikhlasan. Menemukan Sahabat Sejati Selain batasan umum yang telah diberikan al-Qur’an dan Hadist di atas, tentu perlu pula kita cari penjelasan lebih rinci tentang sahabat sejati ini. Tipe teman yang patut dijadikan sahabat : 1. Mau berbagi apa saja Individu dari kategori ini ternyata sanggup menomorduakan krisis yang sedang dialaminya demi seorang sahabat. Tetapi kamu jangan mengambil kesempatan atas kebaikan dirinya. Bagaimana ingin mengenal pasti individu ini? • Dia tidak menipu dan mampu menyimpan rahasia walaupun perkara kecil. • Dia sering menanyakan kabar tentang dirimu. • Karier impiannya adalah sebagai seorang ahli psikologi. 2. Memahami Kamu bisa menerima dan mendengar nasihat serta pandangan yang diberikan dengan hati terbuka. Nasihat yang diberikan juga amat meyakinkan kamu, individu ini wajar kamu dampingi sebagai sahabat sejati. Bagaimana ingin mengenal pasti individu ini • Dia bersedia dihubungi kapan saja... 24 jam sehari, 7 hari seminggu! • Dia seorang teman yang keukeuh memegang janji. Dalam persahabatan, dia adalah sahabat yang setia. • Dalam permasalahan kamu dia banyak membantu. Dia mampu mengenali apakah individu yang berhubungan denganmu itu, benar-benar ikhlas atau mungkin ingin memperalatmu. 3. Profesional Saat kamu mengalami permasalahan, dia akan datang menghampirimu dan berusaha memahami keadaanmu. Dia berusaha memberi nasihat dengan meletakkan dirimu dalam dirinya. Nasihat dan pandangannya itu pun tidak mempunyai unsur berat sebelah dan sekaligus tidak mengkambinghitamkan seseorang. Jelaslah bahwa dia sahabat yang profesional yang bisa kamu dampingi. Bagaimana ingin mengenal pasti individu ini; • Dia bijak menjaga emosimu setiap kali kamu berada dalam keadaan tegang • Setiap kali kamu menyatakan pandangan dan usulan, dia mendengarnya dengan ikhlas dan hormat. Kamu boleh melihat kejujuran itu dari sinar matanya. • Dia tidak pernah memberi alasan sekiranya kamu ajak bertemu. Walaupun dia tahu bahwa dirinya akan menjadi tempat curahan masalahmu pada waktu itu! 4. Jujur Setiap kali ada yang tidak pas dengan penampilan dan keadaanmu, dia akan menegurmu dengan bijak. Dia berkeinginan agar kamu kelihatan perfect setiap saat. Dari teguran dan komentar yang diberikan itu ternyata membangun kamu. Kamu boleh menerima tegurannya dengan hati yang terbuka. Bagaimana ingin mengenal pasti individu ini: • Dia adalah individu yang lurus. Walau bagaimanapun, keterus-terangannya itu tidak menyakitkan hatimu. • Dia mau menjadi tulang belakangmu. • Kamu sentiasa merasakan bahawa nasihatnya amat berharga. Itu beberapa tips yang bisa diambil, Begitupula berlaku sebaliknya terhadap mereka yang patut dihindari. Walhasil, Allah swt. telah memberikan rambu-rambunya dalam mencari sahabat. Setiap aktifitas yang kita lakukan, tentu punya tujuan, dan sebagai seorang muslim tujuan hidupnya tidak lain adalah untuk mencari ridha Allah swt., sehingga ketika mencari sahabat sejati pun demikian, tentu yang dicari adalah yang bisa saling mengajak kepada keridhaan Allah swt. semata, dan bukan mengajak kepada kemurkaan Allah swt. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (TQS. Ali Imran [3]: 103) Wallahu a’lamu bishawab. [] Daftar Pustaka 1. Al Qur’an Digital ver. 2.0, http://www.alquran-digital.com 2. Al Baghdadi, Abdurrahman.1991. Emansipasi, Adakah dalam Islam. Gema Insani Press. Jakarta 3. Al Ghazali, Muhammad. Mutiara Ihya Ulumuddin. Mizan. Jakarta 4. An Nawawi, Abu Zakariya 1992 . Riyadh as-Shalihin Jilid I. Pustaka Azzam. Jakarta 5. Khatib, Muhammad Khalil. 2001. Khutbah Khutbah Rasulullah. Darul Falah. Jakarta 6. Jurnal Al Wa’ie no. 32 Tahun III, 1-30 April 2003. Jakarta 7. Ariani dalam webblog-nya Disampaikan dalam Kajian Fiqih Islam MT Al Marjan, Jum’at, 1 April 2005. Pengasuh rubrik Hardware dalam Forum Darmaga Computer pada situs forumdc.x.am (tanpa www.). Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Yaitu hari Kiamat, lihat dua ayat sebelumnya. Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, bab Adab Persaudaraan Diambil dari situs www.kerangkraf.com.my, dengan beberapa perubahan agar sesuai dengan tema. "Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan silaturahmi." (Muhammad SAW).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar